Tips on Making Children Picture Books -Part 2

Part 2

Okay, sekarang saya mau sharing tentang cerita Phillips,

Phillips Wreck ini bapaknya Clavis Publishing dari Belgia, dia punya konsep supaya masing2 anak meraih mimpinya lewat cerita2 di buku cerita anak, di awal sharing beliau banyak bercerita tentang konsep bagaimana kita harus punya ‘mimpi’ dan berusaha mewujudkannya.

9

Saya seperti disentil juga dengan sharing beliau, di booster dengan diingatkan untuk lebih keras berusaha untuk punya suatu standar kualitas dalam setiap gambar yg saya hasilkan, dari situ kata beliau, tidak mustahil ‘mimpi’ kita akan terwujud, dia bercerita dari mulai buka stand kecil dipameran buku, yang ngak pernah dilirik orang, beliau tetap konsisten berusaha, mem-branding diri sendiri, dan sekarang sudah punya banyak perwakilan dimana2, dan umurnya sudah 65 tahun dan oke banget, malu deh kita kalo suka menggerutu ini itu tanpa berusaha. Suer! 😀

8

Ada beberapa pelajaran yang beliau tekankan dari sisi pembuatan buku cerita anak. Kalau Pauline bercerita dari sisi penulisan dan karakter cerita, Phillips lebih banyak sharing dari sisi teknis sebagai publisher, dalam hal ini publisher Clavis ya, krn masing2 publisher memiliki poin poin yang berbeda.

  1. Alur karakter, karakter bergerak dari kiri ke kanan, karena arah mata cenderung bergerak dari kiri ke kanan
  2. Pastikan ukuran karaktermu, skalanya berimbang dr awal sampai akhir, jangan berubah2*kalau saya prosesnya bisa dimulai dari storyboard, jgn males bikin storyboard ya, it’s crucial !
  3. Kover, taruh karakter utama di kovermu, dgn mata memandang ke kamu, intinya ada interaksi antara karakter dan calon konsumen.
  4. Hati hati dengan lipatan tengah buku, jangan sampai objek utama terpotong ditengah, a big no no.
  5. Kalau mau menulis cerita,coba definisikan ‘akhir cerita’ dulu, kalau ‘akhir ceritanya’ sudah ketemu, awal dan tengahnya akan lebih mudah.
  6. Kadang ada cerita yang problemnya memang tidak terselesaikan, dan itu ngak papa, misalnya: seorang anak yang sakit, apakah dia bisa menolak jatuh sakit? Mungkin tidak, tapi kita bisa bercerita bahwa dengan sakit akan ada teman yang menjenguk, sakit akan sembuh, akan ada aktivitas seru dirumah waktu dia harus istirahat krn sakit. Problem sometimes can not be solved, but can be accepted.
  7. Keseimbangan antara teks dan gambar, tidak terlalu panjang dan harus seimbang dengan muatan gambar.

7

Lalu ada pertanyaan tentang memilih karakter, apakah harus binatang atau manusia? Ada poin yg bagus disini, untuk cerita dengan beban emosi yg berat, misalnya tentang kematian, bencana, dianjurkan untuk memilih subject non-manusia, karena akan sangat berat untuk anak meng-analogikan karakter utama itu dengan dirinya sendiri ‘bila’ subjek utamanya adalah manusia, terlalu menyedihkan, terlalu ‘sama’ dengan diri si ‘anak’ itu sendiri. Dengan cerita yg seperti ini maka pilihan karakter binatang atau karakter imajinatif lainnya bisa diambil.

Nah demikianlah!
Jangan lupa, seringlah ikut workshop, forum diskusi, supaya kita bisa banyak mendapat masukan, beda-beda metode dari berbagai narasumber, ambil dan bungkus sesuai karakter kita, dan kalian pasti bisa membuat karya yang hebat. Semangat ya ilustrator buku anak Indonesia!

Advertisements

Tips on Making Children Picture Books -Part 1

Kemarin saya dan beberapa teman mendapat kesempatan untuk bertemu dan membantu Clavis Publishing dari Belgia untuk mengadakan workshop dan talkshow di Jakarta.

Acaranya sendiri bertema: Journey to Publication.
Making picture books Workshop & Talkshow
5
Phillipe memberikan tips2 dari sisi penerbitan, sedangkan Pauline dari sisi ilustrasi dan penulisan buku. Dari beberapa workshop yang saya ikuti, banyak berbagai cara pendekatan yang berbeda, dari semuanya itu kita bisa mengambil mana yang terbaik dan paling cocok untuk sistem bekerja kita.

2Okaay kita mulai saja ceritanya ya, mulai dari konsep pembuatan buku berdasarkan Pauline, buku-buku Pauline adalah untuk usia 2- 6 tahun, kalau disini itu adalah usia balita dan preschool, garis garis karakternya tebal, warnanya cerah, dan bahkan ada seri yg memiliki merchandise boneka dan party supplynya.

Saya akan bercerita tentang apa yang Pauline berikan dulu ya. Kalau kita membuat buku yg pertama harus kita pikirkan adalah TUJUAN:

1. Untuk umur berapa buku kita dibuat? Temanya apa?

12-18 bulan– biasanya adalah board book, dgn tujuan supaya si anak tidak bisa merobek bukunya, tau sendiri bayi seprti apa toh?
2-3 tahun, biasanya tema berkitar tentang kehidupan sehari- hari
3-5 tahun, mulai ada tema dengan konflik ringan disekitar kehidupan anak, misalnya: pindah rumah, perseteruan dengan saudara, teman.

2. Apakah buku itu akan dibacakan oleh orangtua? Atau oleh si anak sendiri?
3. Interactive, buku yang baik haruslah interaktif, dalam hal ini memiliki kata tanya yg ditujukan pada anak, misalnya: “Lalu setelah ini apa yg terjadi?” , atau bisa juga berupa poin poin ilustrasi yg menarik sesuai dengan alur cerita; memilih warna baju atau warna celana.

4. Humor, kemasan humor tidak pernah gagal, anak anak dan orang tua menyukainya, jadi tambahkan sedikit humor ya
5. Edukasi tersirat, bukan berarti diakhir cerita ada tulisan: JADI ANAK ANAK KALIAN HARUS…. bla bla, bukan itu, melainkan edukasi keseluruhan dr cerita yg tersirat dalam dialog dan ilustrasi tanpa kesan menggurui.

6. Punchline:  istilah ini sempat membuat kami bingung, jadi saya copas dari istilah aslinya ya, supaya ada gambaran yg lebih jelas tentang punch line ini:

punch line (“punch-line” or punchline) concludes a joke; it is intended to make people laugh. It is the third and final part of the typical joke structure. It follows the introductory framing of the joke and the narrative which sets up for the punch line.

In a broader sense punch line can also refer to the unexpected and funny conclusion of any performance, situation or story.

Contohnya:
A Some men are about to be executed. The guard brings the first man forward, and the executioner asks if he has any last requests. He says no, and the executioner shouts, “Ready! Aim!” Suddenly the man yells, “Earthquake!” Everyone is startled and looks around. In all the confusion, the first man escapes.

A The guard brings the second man forward, and the executioner asks if he has any last requests. He says no, and the executioner shouts, “Ready! Aim!” Suddenly the man yells, “Tornado!” In the confusion, the second man escapes.

B By now the last man has it all figured out. The guard brings him forward, and the executioner asks if he has any last requests. He says no, and the executioner shouts, “Ready! Aim!” and the last man yells, “Fire!” [16]

According to this theory, the punchline is always the deviation, and it does not matter how many instances of A occur for there to be a punchline. However, jokes following the AAB structure are consistently rated as being funnier than their AB or AAAB counterparts.

7. Turning Points
turning pointof a narrative workis its point of highest tension and drama, or it is the time when the action starts during which the solution is given.

Silakan disimpulkan sendiri dan dianalisa kalau punya buku bagus, turning pointnya dimana, punchlinenya dimana.

Artikel ini bersambung dulu yaa , sekarang mari kerja dulu, besok saya sambung untuk bagian Phillipe bercerita 🙂